DI TERBITKAN OLEH DPD KNPI KOTA SUKABUMI

….......Indonesian youth as heir to the leadership in the future, have a great responsibility to establish their independence…..........

Pelatihan Kepemimpinan Pemuda

Kamis, 10 Juni 2010

Pemuda Dulu Dan Kini

Sejumlah pelajar sekolah menengah asal Jawa dan Madura diantaranya Satiman Wirjosanjoyo, Sunardi, dan Kadarman mendirikan Trikoro Dharmo di Jakarta 9 Maret 1915.

Trikoro Dharmo berganti nama menjadi Jong Jawa pada kongres pertama di Surakarta tahun 1918. Kemudian muncul organisasi serupa seperti Jong Sumateranen Bond, Jong Celebes, Jong Minahasa, dan sebagainya.

Jong Sumateranen Bond didirikan di Jakarta 9 Desember 1917 oleh pemuda pelajar asal Sumatera seperti Moh Hatta, M Yamin, Adnan Kapau Gani, Abu Hanifah, Bahder Johan, dan M Tabrani.

Jong Minahasa berdiri tahun 1918 dengan tokohnya antara lain GR Pantau dan dalam waktu berdekatan terbentuk pula Jong Celebes yang didirikan oleh Waworuntu, Magdalena Mokoginta, dan Arnold Manonutu.

Semula organisasi mereka bersifat kedaerahan. Lalu, muncul keinginan untuk membentuk perkumpulan nasional. Keinginan itu terwujud melalui pembentukan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) pada tahun 1926.

Pada tahun itu pula mereka menggelar Kongres Pemuda I di Jakarta bertujuan memajukan paham persatuan dan kebangsaan serta mempererat hubungan dengan semua perkumpulan pemuda.

Dua tahun kemudian digelar Kongres Pemuda II di Indonesisch Clubhuis (saat ini disebut Gedung Sumpah Pemuda) Jakarta pada 26-28 Oktober 1928 yang dihadiri berbagai organisasi kepemudaan, partai politik seperti Sarikat Islam, PNI, dan Budi Utomo.

Mereka yang terlibat dalam kepanitiaan kongres itu antara lain ketua Sugondo Joyopuspito (PPPI), wakil ketua Joko Marsaid (Jong Java), sekretaris M Yamin (Jong Sumateranen Bond), bendahara Amir Syarifuddin (Jong Batak Bond) serta sejumlah pembantu seperti Johan M Cai (Jong Islamiete Bond), Senduk (Jong Celebes), J Leimena (Jong Ambon), Rohayani (Pemuda Betawi), dan Koco Sungkono (Pemuda Indonesia).

Pada sidang terakhir 28 Oktober 1928 seluruh peserta Kongres Pemuda II sepakat mencetuskan ikrar yang dikenal dengan Sumpah Pemuda berisi tiga butir yakni bertanah air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia.

Dalam kongres itu pula diperdengarkan untuk pertama kali lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Supratman dan bendera merah putih sebagai bendera bangsa Indonesia.

“Itulah karya jenius pemuda Indonesia. Bayangkan, dalam masa penjajahan Belanda mereka sangat berani menghasilkan Sumpah Pemuda sehingga menyemangati bangsa Indonesia untuk merdeka dan berdaulat,” kata Ketua Umum Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri TNI/Polri (Pepabri) Agum Gumelar dalam diskusi tentang kepemimpinan, di Jakarta, Minggu (26/10).

Pemimpin Perubahan

Perjalanan sejarah berlanjut dan peran pemuda amat menentukan kehidupan bangsa Indonesia. Ilmuwan asal AS yang banyak melakukan penelitian di Indonesia, Prof Benedict Anderson menyatakan bahwa berbicara tentang perjalanan sejarah Indonesia adalah berbicara tentang pergerakan kaum muda yang selalui memberi warna.

Sejumlah pemuda menculik Soekarno dan Moh Hatta ke Rengasdengklok agar kedua pimpinan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia itu memproklamasikan Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 setelah pengeboman tentara sekutu ke Hiroshima dan Nagasaki (Jepang) agar penjajahan Jepang di Indonesia sejak 1942 dapat diakhiri.

Soekarno dan Hatta yang merupakan tokoh pemuda yang tampil memimpin bangsa Indonesia. Kepemimpinan bangsa Indonesia ketika itu didominasi dari kalangan pemuda berusia 40 tahunan.

Pemuda termasuk mahasiswa terus tampil sebagai agen perubahan (agent of change). Pemerintahan Soekarno yang menerapkan demokrasi terpimpin sejak 1959 dan mengangkat diri sebagai presiden seumur hidup dianggap lalim oleh sebagian pemuda.

Anti klimaks kepemimpinan Soekarno terjadi setelah peristiwa Pemberontakan G 30 S/PKI. Sebagian pelajar, mahasiswa, dan pemuda menggelar unjuk rasa untuk membubarkan PKI. Mereka berhadap-hadapan dengan pemuda simpatisan PKI.

Disadari atau tidak, peran pemuda sebagai agen perubahan telah ditunggangi kepentingan politik. Sebagian pemuda, antara lain dikenal dengan Eksponen 66 terangkut dalam pemerintahan Orde Baru yang menjatuhkan kepemimpinan Soekarno tetapi banyak pemuda lainnya yang juga menentang Orde Lama hanya menjadi penonton ketika Orde Baru berkuasa.

Kepentingan pemuda menjadi terbelah karena ada unsur mencari kekuasaan di dalamnya.

Rezim Orde Baru pimpinan Soeharto sangat efektif meredam dinamika mahasiswa dan pemuda. Peristiwa Malari dijadikan momentum mematikan sikap kritis pemuda secara masif. Rezim Orde Baru turut membidani pembentukan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang menjadi wadah berhimpun berbagai organisasi kepemudaan sehingga mudah dikontrol.

Pemuda dan mahasiswa seakan tak berdaya dengan penerapan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan tahun 1984, kampus-kampus memiliki resimen mahasiswa, aktivis ditangkapi.

Sebagian pemuda menjadi tak peduli dan bersikap acuh tak acuh terhadap sesama dalam dinamika kehidupan bangsa. Tak heran bila kelompok musik Casiero pimpinan musisi Chandra Darusman (adik tokoh pemuda Marzuki Darusman) pada media 1980-an mengedarkan rekaman lagu berjudul “Pemuda”.

Intro syair lagu itu berbunyi “Pemuda kemana langkahmu menuju, apa yag membuat engkau ragu, tujuan sejati menunggumu sudah, tetaplah pada pendirian semula…” Sementara akhir syair lagu itu berbunyi “Bersatulah semua, seperti dahulu, lihatlah ke muka, keinginan luhur kan terjangkau semua”.

Seperti mengulang kejatuhan Orde Lama, kedatangan era reformasi yang ditandai pengunduran diri Presiden Soeharto sejak 21 Mei 1998 juga hanya menempatkan pemuda dan mahasiswa sebagai pendobrak dan belum berani mengambil peran dalam memimpin bangsa.

Pemuda hanya dipakai sebagai pemulus jalan segelintir elite tertentu untuk berkuasa. Hingga muncul sebuah kesadaran dari sebagian kaum muda bahwa pemuda sudah saatnya memimpin, lewat pertemuan di Gedung Arsip Nasional 28 Oktober 2007. Pertemuan yang mengikrarkan “Saatnya Kaum Muda Memimpin” itu seolah menjadi sumpah pemuda jilid II.

“Harus jujur diakui selama ini para pemimpin masih kurang taat asas pada pencapaian tujuan nasional. Kaum muda merasa terpanggil menghembuskan angin sejarah biar laut bergolak dan bumi bergetar. Biar semua komponen bangsa terutama para pemimpinnya terbangun dan bekerja mati-matian untuk bangsanya,” kata Sukardi Rinakit dalam bukunya “Tuhan Tidak Tidur” (Penerbit Kompas, 2008, halaman 93).

Sukardi bersama banyak politisi, pengamat, dan organisatoris kepemudaan dalam pertemuan itu ingin Indonesia bisa tersenyum karena cukup sandang, pangan, dan papan serta biaya sekolah dan kesehatan terjangkau.

Sekretaris Jenderal DPP KNPI Munawar Fuad menyatakan kini bukan saatnya lagi bagi pemuda untuk menjadi agen perubahan saja. “Pemuda juga harus menjadi pemimpin perubahan,” katanya.

Sebut saja Rizal Mallarangeng (47 Tahun), Yuddy Chrisnandi (40), dan Fadjroel Rachman (46) telah mendeklarasikan diri sebagai calon presiden untuk Pemilu 2009. Mereka dan banyak pemuda lain yang bakal mengikuti jejak itu antara lain terinspirasi oleh Dimitry Medvedev yang menjadi Presiden Rusia tahun 2208 pada usia 44 tahun.

Begitu pula calon Presiden AS dari Partai Demokrat Barack Hussein Obama Jr masih berkepala “40-an tahun”. Obama menantang calon tua dari Partai Republik John McCain yang berusia 70-an tahun.

Bila Barack Obama menang dalam pemilihan bulan November 2008 tentu menjadi magnet bagi pemuda Indonesia untuk tampil memimpin bangsa ini.

Kaum muda mungkin merasa tak cukup memimpin daerah seperti Wakil Gubernur Jabar Dede Yusuf, Wakil Bupati Tangerang Rano Karno atau menjadi pimpinan dan anggota DPR dan DPRD, menteri seperti Adhyaksa Dault dan Lukman Edy, kepala badan seperti Moh Jumhur Hidayat, atau eksekutif dan komisaris di berbagai perusahaan negara dan swasta.

Tetapi mengapa pemuda Indonesia kini mencari jalannya sendiri-sendiri dan senang bertanding dengan sesama seperti tawuran mahasiswa, dualisme kepemimpinan partai politik, muncul KNPI kembar, pendukung dan penentang Ahmadiyah atau RUU Pornografi. Padahal kunci kesuksesan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah bisa menyatukan perbedaan kepentingan, bukan membedakan satu kepentingan. ( ant/ Budi Setiawanto )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar